Home / Forum

Forum

Waktu yang paling berharga dalam agama islam  

  RSS

ubhe96
Eminent Member
Joined: 12 bulan  ago
Posts: 32
20/04/2020 10:21 am  

https://www.mustafalan.com - Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kami lakukan. Berjam-jam ikuti kajian kitab pun jarang kami lakukan. Berjam-jam membolak-balik kitab para ulama pun susah untuk kami tengok pada biasanya sosok pemuda muslim di masa ini. Namun, berjam-jam di depan internet tanpa tersedia aktifitas yang mengerti dan bermutu adalah sesuatu yang lumrah. Terlebih ulang bersama ada facebook yang kini marak di dunia maya. Sungguh benar Allah ta’ala yang berfirman (yang artinya), “Demi masa, sebenarnya semua orang amat berada di dalam kerugian, jikalau orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati di dalam kebenaran, dan saling menasihati di dalam kesabaran.” (QS. al-’Ashr : 1-3).

Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya saja, biasanya orang tidak bisa memakai produk kecanggihan teknologi itu bersama sebagaimana seharusnya. Cobalah kami ingat lebih dari satu belas th. yang silam, disaat televisi tetap menjadi barang langka, disaat internet dan hape belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan kami dapati banyak kemungkaran yang dahulu jarang kami temukan berjalan secara terang-terangan ternyata pada masa saat ini ini telah menjadi barang yang biasa dan wajar menghiasi PC, laptop, dan perangkat komunikasi para generasi muda. Allahul musta’an! Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segeralah beramal sebelum akan datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang tetap beriman tetapi di sore harinya dia telah menjadi kafir.” Atau “Pada sore hari tetap beriman tetapi di pagi harinya dia menjadi kafir.” “Dia sudi menjual agamanya demi meraih sekeping kesenangan dunia.” (HR. Muslim).

Saudaraku -semoga Allah melindungi diriku dan dirimu- waktu yang Allah berikan kepada kami merupakan nikmat yang amat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang biasanya manusia terpedaya dikarenakan tidak bisa memakai keduanya bersama baik, yaitu kesegaran dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Hai anak Adam, sebenarnya kamu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah lebih dari satu berasal dari dirimu.” Ada orang yang mengatakan, “Waktu bagaikan pedang, jikalau kamu tidak menebasnya -dengan kebaikan- maka dia akan menebasmu -dengan keburukan-.”

Hidup di dunia adalah waktu ya akhi…, untuk apa kami buang waktu kami di dalam perkara-perkara yang sia-sia? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah kalian mengira, bahwa Kami menciptakan kalian percuma belaka, dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”. (QS. al-Mukminun : 115). Allah terhitung berfirman (yang artinya), “Kemudian sesudah itu kalian terhitung akan mati, sesudah itu kalian kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat.” (QS. al-Mukminun : 15-16).

Setiap mukmin, disaat ditanya; untuk apa kamu hidup? Niscaya selama akalnya tetap waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah. Benar-benar jawaban yang cerdas. Namun, disaat kami menyimak bersama seksama aktifitas dan prilaku manusia di alam nyata di dalam wujud gerak-gerik mata, jari-jemari, tangan dan kakinya, di waktu siang, sore atau malam hari, maka akan kami temukan realita yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat berasal dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka makan untuk mencukupi udara nafsu. Mereka menyaksikan untuk mencukupi udara nafsu. Mereka berjalan untuk menggapai apa yang di inginkan oleh nafsu. Mereka begadang terhitung untuk mencukupi tuntutan udara nafsu. Mereka membuka mata dan telinga lebar-lebar pun untuk mencukupi permintaan udara nafsu.

Kita tidak sedang menyibukkan diri bersama mengupas aib orang lain, tetapi yang kami bicarakan adalah aib-aib kami yang Allah sendirilah yang paling mengerti betapa banyak aib kami di mata-Nya. Meskipun demikian, kami layaknya orang yang masa bodoh bersama dosa-dosanya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Seorang mukmin akan menyaksikan dosanya bagaikan sebuah bukit besar yang akan menimpa dirinya. Sedangkan seorang yang fajir akan menyaksikan dosanya hanya layaknya seekor lalat yang hinggap di depan hidungnya sesudah itu dia halau bersama jari bersama santainya.”

Subhanallah! Betapa jauhnya kami bersama akhlak salafus shalih. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, “Aku berjumpa bersama tiga puluh kawan dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua terasa khawatir dirinya tertimpa kemunafikan.” Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Seorang mukmin akan memadukan di di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan baik bersama rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di di dalam dirinya antara perbuatan buruk bersama rasa safe berasal dari tertimpa hukuman.” Allahul musta’aan!

Di manakah posisi kami wahai saudaraku! Kita menisbatkan diri sebagai seorang salafi -pengikuti pemahaman salafus shalih- tetapi di dalam prakteknya akhlak kami layaknya akhlak orang-orang Arab Badui…!

Allah ta’ala berfirman mengenai akhlak orang Arab Badui (yang artinya), “Orang Arab Badui itu lebih keras kekufuran dan kemunafikannya dan amat wajar tidak mengerti batasan-batasan (hukum) yang Allah turunkan kepada rasul-Nya…” (QS. at-Taubah : 97). Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Meskipun di kota maupun di pelosok/badui terhitung sama-sama terkandung orang kafir dan munafik, tetapi yang berada di pelosok itu biasanya lebih kronis daripada yang hidup di kota. Salah satu buktinya adalah orang Arab badui/pelosok itu lebih rakus kepada harta dan lebih pelit terhadapnya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/457]).

Memang lebih dari satu di antara mereka pun terkandung orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan di antara orang Arab Badui itu pun tersedia yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. at-Taubah : 99). Oleh dikarenakan itu mereka dicela bukan dikarenakan kebaduiannya, akan tetapi dikarenakan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah, dan bahwasanya mereka adalah golongan orang yang amat ringan terjerumus di dalamnya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/458]).

Maka apa bedanya mereka itu (baca: Arab badui yang ‘mbeling’) bersama lebih dari satu di antara kaum muslimin pada hari ini yang begitu ringan meninggalkan perintah-perintah Allah serta menerjang larangan-larangan-Nya sekedar bersama alasan “Ini kan masa moderen, biasalah.” “Kita kan tetap muda, ya wajar!”. Atau bersama mengatakan, “Dari pernah ya telah kayak gini, masak kebiasaan warisan nenek moyang sudi kami selisihi [?!]“. Atau bersama mengatakan, “Masak tiap hari disuruh pengajian, kami ‘kan terhitung perlu refreshing, nikmati dunia memangnya gak boleh?”. Atau, “Ah kamu ini sok suci. Jangan munafiklah!”. “Kamu sih, sukanya yang ekstrim-esktrim.” Dan seabrek bisikan syaitan lainnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah!

Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu- sebenarnya syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti mengusahakan untuk menjerumuskan umat manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan. Maka dia mengutus pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala tentaranya yang paling mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang paling dahsyat mengakibatkan kekacauan.” (HR. Muslim).

Suatu ketika, Aisyah radhiyallahu’anha mendapati suaminya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya di suatu malam, maka Aisyah pun terasa cemburu. Setelah pulang, Nabi menyaksikan keresahan yang tersedia padanya, lantas Nabi berkata, “Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah kamu terasa cemburu?”. Aisyah mengatakan, “Bagaimana orang sepertiku tidak terasa cemburu kepada seorang suami yang layaknya anda?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah syaitanmu telah mendatangimu?”. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah bersamaku tersedia syaitan?”. Beliau menjawab, “Iya.” Lalu Aisyah berkata, “Apakah semua orang terhitung demikian?”. Beliau menjawab, “Iya.” Aisyah ulang bertanya, “Demikian terhitung kamu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Iya, hanya saja Allah telah membantuku untuk menundukkannya agar pada akhirnya dia pun masuk Islam.” (HR. Muslim).

Ketika dahulu para kawan dekat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati di dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. Eee … pada hari ini lebih dari satu berasal dari kami justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk memupuk kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kami ingat firman Allah ta’ala (yang artinya), “Pada hari kiamat itu nanti orang-orang yang saling berkasih sayang dan berteman akan beralih menjadi saling bermusuhan jikalau orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf : 67).

Maka, bersama andil besar berasal dari syaitan dan bala tentaranya itulah, terbentuklah geng-geng, perkumpulan-perkumpulan, gerakan-gerakan, yang seluruhnya punyai satu kecenderungan yang seragam yaitu bertekad bulat untuk mendurhakai ar-Rahman Sang penguasa kerajaan langit dan bumi. Dengan keyakinan mereka, mereka menanamkan bahwa kehidupan dunia adalah lahan untuk memuaskan udara nafsu dan mengumbar kesombongan. Dengan ucapan mereka, mereka menghendaki mengelabui kaum muda bahwa tidak tersedia gunanya rajin-rajin menuntut ilmu agama, lebih baik sibuk bersama wawasan terkini dan meninggalkan al-Qur’an. Dengan sikap dan perbuatan mereka, mereka mengajak masyarakat dan para orang tua untuk bersama menenggelamkan putra-putri mereka di dalam pergaulan bebas tanpa batas, agar perbuatan keji pun bersama leluasa merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai saudaraku yang mulia… akankah kami biarkan kemungkaran itu terus merajalela dan merusak tunas-tunas bangsa?

Oleh dikarenakan itu, seorang pemuda muslim yang tetap menaruh kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya menanamkan tekad di di dalam hatinya agar tidak turut memperkeruh raut wajah umat Islam masa kini di hadapan Rabb mereka.

Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang doa agar hati tenang dan tidak gelisah getol untuk memperjuangan tauhid dan memberantas syirik yang tersedia di masyarakatnya!

Jadilah sebagaimana para pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan Allah pun sudi memberi tambahan hidayah kepada mereka!

Jadilah sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang amat keras memusuhi musuh-musuh Islam yang berani melecehkan kawan dekat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Jadilah sebagaimana para pemuda Anshar yang berlomba-lomba untuk maju ke medan jihad demi mempertahankan agamanya!

Jadilah sebagaimana Uwais al-Qarani yang amat berbakti kepada ibunya!

Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang amat pelit bersama waktunya dan paling gigih di dalam melindungi lisan mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka itu mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. az-Zukhruf : 80).

Allah ta’ala terhitung berfirman (yang artinya), “Tidak tersedia kebaikan di di dalam biasanya pembicaraan mereka jikalau orang yang menyuruh bersedekah, mengajak yang ma’ruf, atau mendamaikan di antara manusia.” (QS. an-Nisa’ : 114). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah satu sinyal baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak mutlak baginya.” (HR. Tirmidzi, hasan). Sebagian orang bijak mengatakan, “Apabila kamu akan berbicara maka ingatlah bahwa Allah mendengar ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Allah terhitung selalu mengawasimu.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 152).

Ikhwah sekalian, tauhid bukan sekedar postingan yang tergores di buku-buku. Tauhid bukan sekedar dihafal di di dalam pikiran. Tauhid terhitung bukan sekedar slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam di di dalam hati seorang insan tentu akan membuahkan amal nyata di di dalam kehidupan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “..pokok keimanan itu tertanam di di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia termasuk pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang tersedia di di dalam hati pastilah akan nampak konsekuensinya di dalam perbuatan anggota-anggota badan. Apabila seseorang tidak lakukan konsekuensinya maka itu membuktikan bahwa iman itu tidak tersedia atau lemah [padanya]. Oleh dikarenakan itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi berasal dari keimanan di di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang tersedia di di dalam hati, sinyal dan saksi baginya. Ia merupakan cabang berasal dari totalitas keimanan dan anggota berasal dari kesatuannya.…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah, menyaksikan terhitung Mujmal Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah, hal. 15).

Ibnu Batthah rahimahullah (wafat th. 387 H) menjelaskan riwayat berasal dari Umair bin Habib radhiyallahu’anhu, dia mengatakan, “Iman itu makin tambah dan berkurang.” Ada yang bertanya, “Apakah maksud pertambahan dan pengurangannya?”. Beliau menjawab, “Apabila kami mengingat Allah sesudah itu kami memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan seandainya kami lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.” (al-Ibanah al-Kubra [3/153], menyaksikan terhitung Fath al-Bari Ibnu Rojab [1/5] as-Syamilah).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk dan risau hati mereka bersama mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada mereka), dan janganlah mereka itu layaknya orang-orang terdahulu yang diberikan kitab sebelum akan mereka, disaat masa yang panjang berlalu maka mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.” (QS. al-Hadid : 16).

Suatu disaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan celakan sedangkan bersama kami tetap tersedia orang-orang salih?”. Maka beliau menjawab, “Iya, seandainya perbuatan-perbuatan keji telah merajalela.” (HR. Muslim).

Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para pemuda yang menghendaki kebahagiaan abadi di akherat nanti, bersama para bidadari dan pelayan-pelayan yang baik budi. Suatu hari di waktu orang-orang lain tersiksa, disaat itu pemuda yang tumbuh di dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan Arsy-Nya. Karena dia sudi untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh udara nafsunya demi meraih kecintaan Rabb alam semesta.

Allah ta’ala berfirman mengenai surga (yang artinya), “Itulah yang balasan bagi orang-orang yang risau kepada Rabbnya.” (QS. al-Bayyinah : 8).

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dan memurnikan taubat kami agar amat ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar ulang Maha Penerima taubat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. 


ReplyQuote
nurhasim
New Member
Joined: 1 bulan  ago
Posts: 1
29/05/2020 8:55 am  

Perjalanan Doa - Berikut ini doa ketenangan hati dan pikiranyang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat.

Hati yang gelisah dan pikiran yang runyam bisa terjadi secara mendadak.

Kondisi demikian tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi.

Tiba-tiba ada konflik dalam rumah tangga, pekerjaan atau lingkungan tempat tinggal.

Dapat pula terjadi ketika hasil usaha tidak sesuai dengan target yang direncanakan.

Semua kondisi tersebut bisa membuat frustrasi.

Sebagai umat Islam, tidak perlu resah.

Rasulullah telah mengajari kita doa agar hati dan pikiran selalu diberi ketenangan.

Berikut ini bacaan penenang hati dan pikiran:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ

Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.”

Doa ini diriwayatkan Imam Thabrani dari Abu Umamah, dia berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ قَالَ لِرَجُلٍ قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً ، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ , وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi SAW. berkata (mengajari) seseorang. Katakanlah, ‘Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.’”

Apabila hati dan pikiran Anda dalam kegelisahan sehingga merasa tidak tenteram dan tenang.

Bacalah doa ini supaya kegelisahan tersebut hilang.

Sebab hati dan pikiran merupakan kunci utama untuk menjalani kehidupan.

Demikian doa agar hati dan pikiran menjadi tenang.

Edited: 1 bulan  ago

ReplyQuote
  
Working

Please Login or Register

Powered by moviekillers.com